Ustadz Ni’amullah, Ustadz Muliadi, dan Ashamat Hamra, S.Pt. kegiatatan Halal Bihalal Pojok Ngopi (Foto: Rizky)
SAMARINDA, Brita HUKUM : Semangat kebersamaan dan penguatan spiritual mewarnai acara Halal Bihalal Kafilah Spesial Syawal 1447 H yang digelar Pojok Ngopi di Mushola MSE, Jalan Pinang Seribu, Sempaja Utara, kota Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim) Sabtu (11/04/2026).
Kegiatan yang mengusung thema “Ngopi itu Lebih Asyik Berjamaah” ini menghadirkan tokoh agama dan praktisi, di antaranya Ustadz Ni’amullah, Ustadz Muliadi, dan Ashamat Hamra, S.Pt.
Acara ini menjadi momentum penting bagi warga Samarinda untuk mempererat silaturahmi sekaligus memperdalam pemahaman agama pasca-Ramadan.
Pimpinan Ponpes PADI Samarinda, Ustadz Muliadi, dalam pesannya menekankan bahwa seorang Muslim harus memiliki kesadaran untuk meninggalkan warisan amal yang tidak terputus.
“Kita sebagai seorang Muslim ini ya harus sadar bahwasanya kita harus senantiasa meninggalkan amal, yang mana amal itu bisa memberikan kita atau mengalirkan pahala kepada kita walaupun kita sudah meninggal,” ujar Ustadt Muliadi.
Beliau menjelaskan bahwa forum-forum silaturahmi seperti ini merupakan sarana untuk memperluas ilmu yang bermanfaat.
“Amalan-amalan itu adalah amalan jariyah. Salah satunya adalah ilmu yang bermanfaat. Sehingga forum ini sebetulnya adalah forum untuk memperpeluas ilmu-ilmu yang diharapkan bisa bermanfaat,” tambah Ustadz Muliadi.
Sementara itu, pendakwah kondang Samarinda, Ustadz Ni’amullah, memaparkan materi mendalam mengenai hakikat ketakwaan sebagai tujuan utama ibadah Ramadan, sebagaimana digariskan dalam QS. Al-Baqarah 183 dan 185.
Dalam tausiyahnya, Ustadz Ni’amullah merujuk pada pesan Imam Ali bin Abi Thalib RA mengenai empat ciri utama orang yang bertakwa (Al-Muttaqin):
1. Al-Khaufu minal Jalil: Memiliki rasa takut kepada Allah SWT yang mendorong untuk menjauhi larangan-Nya.
2. Wal ‘Amalu bit Tanzil: Menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup praktis sehari-hari.
3. War Ridho bil Qolil: Senantiasa merasa cukup dan rida atas segala ketetapan Allah SWT.
4. Wal Isti’dadu liyaumir Rahil: Selalu mempersiapkan bekal untuk menghadapi hari kematian dan kehidupan akhirat.
Ketakwaan sebagai Solusi Kehidupan
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa ketakwaan tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga secara kolektif bagi masyarakat. Berdasarkan QS. Ath-Thalaq 2-3, individu yang bertakwa dijanjikan jalan keluar dan rezeki tak terduga. Sedangkan secara jama’i, ketakwaan penduduk suatu negeri akan membuka pintu keberkahan dari langit dan bumi (QS. Al-A’raf 96).
Ustadz Ni’amullah mengingatkan definisi kecerdasan yang sesungguhnya dalam Islam. “Orang yang cerdas adalah mereka yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah mati,” tegasnya mengutip hadis riwayat Ibnu Majah.
Segala fenomena di dunia ini, menurutnya, telah diatur dalam takdir yang presisi sesuai QS. Al-Qamar 49, sehingga sudah sepatutnya manusia fokus pada peningkatan kualitas diri dan tauhid. (bha/adv/rizky).






